Kakek 58 Tahun Asal Peterongan Jombang Cabuli Bocah TK!

Selasa, 20 November 2012 04:03 wib wib
Ilustrasi
Ilustrasi
JOMBANG – Seorang bocah enam tahun jadi korban pencabulan yang dilakukan oleh tetangganya sendiri, di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pelaku yang seusia kakek korban kemudian ditangkap polisi.

Setelah nyaris menjadi sasaran amuk warga, Mahmud (58), warga Desa Kepuhkembeng Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang, langsung ditangkap dan diamankan oleh petugas ke Mapolres setempat. 

Kakek yang sudah memiliki cucu ini sengaja ditangkap setelah polisi mendapat laporan perbuatan pelaku yang tega mencabuli bocah berinisial TA. Korban yang masih belajar di taman kanak-kanak itu merupakan tetangganya sendiri.

Kasubag Humas Polres Jombang, AKP Sugeng Widodo menjelaskan perbuatan tersangka terungkap setelah korban mengadu ke orang tua apa yang dialaminya. Seketika, orang tua korban emosi dan langsung melaporkan kasus ini kepada polis.

Kepada petugas, tersangka mengakui tuduhan tersebut namun menurutnya ia hanya meraba-raba saja bagian alat vital korban. Perbuatan tak senonoh itu dilakukannya setiap korban pulang mengaji dari Musala setempat. Dia mengajak korban mampir ke rumahnya dengan janji akan diberi pelajaran tambahan agar lebih pintar.

“Bukan diajar mengaji, tapi korban justru diperlakukan tidak senonoh hingga berkali-kali. Kami juga masih menunggu hasil visum korban,” kata Sugeng.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
(Sindo TV / Mukhtar Bagus / ris)
 
 

Mahasiswa Jombang Kutuk Invasi Israel atas Jalur Gaza

Selasa, 20 November 2012 19:37 WIB

Mahasiswa Jombang Kutuk Invasi Israel atas Jalur Gaza
Tribun Jabar/GANI KURNIAWAN
Dua orang relawan dari Indonesia Tanpa Jil Chapter Bandung menggalang dana dari masyarakat di kawasan Car Free Day (CFD) Dago, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Minggu (18/11). Aksi solidaritas Indonesia For Gaza ini serentak dilakukan di seluruh Indonesia, dan hasilnya akan disumbangkan untuk warga Palestina di jalur Gaza yang menjadi korban serangan Israel. (Tribun Jabar/Gani Kurniawan) 
Laporan Wartawan Surya, Sutono
JOMBANG – Aksi keprihatinan terhadap serangan Israel yang membabi buta terhadap jalur Gaza, Palestina, menjalar ke Jombang. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa peduli Gaza menggelar solidaritas, Selasa (20/11/2012).
  
Selain membagi selebaran, dalam aksi yang dimulai dari perempatan Pujasera Kebonrojo hingga gedung DPRD itu, para aktivis juga menggalang dana untuk para korban penyerbuan Israel di wilayah Gaza.
  
“Uang yang terkumpul akan kami salurkan ke wilayah Gaza melalui KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) Jakarta,” kata Halib Budiman, korlap aksi.
  
Aksi yang tersebut diikuti dua elemen. Yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (LDSK) Jombang.
  
Para mahasiswa memulai aksinya dengan berorasi di perempatan Pujasera Kebonrojo. Sembari berorasi, beberapa mahasiswa menampung donasi dari pengguna jalan di sudut-sudut perempatan menggunakan kardus.
  
“Kami mengutuk invasi Israel ke jalur Gaza, yang merupakan wilayah Negara Palestina merdeka,” tegas Halib. Selain itu, dalam orasinya, dia juga mendesak PBB mengambil langkah tegas guna menghentikan serangan Israel.
  
Usai orasi di perempatan Pujasera Kebonrojo, mereka kemudian bergeser ke depan Pemkab Jombang dan depan DPRD setempat. Di dua tempat iotu, mereka juga melakukan hal serupa, orasi mengutuk Israel dan menghimpun dana untuk korban invasi Israel di Gaza.


Warga Tembelang dibegal di Kudu Jombang!

Kepala Usman Dihajar Parang, Motor Dirampas
 
Selasa, 20 November 2012 12:42:54 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono

Jombang - Nasib apes dialami Usman (39), warga Desa Jatiwates Kecamatan Tembelang, Jombang. Ia menjadi korban keberingasan bandit jalanan saat melintas di Jalan Raya Tapen Kecamatan Kudu, Selasa pagi (20/11/2012). Kepala Usman dicacah parang, setelah itu motor jenis Honda Vario miliknya dibawa kabur pelaku.

Tak ada yang tahu persis kejadian perampasan itu. Warga setempat baru mengetahui ketika Usman tertelungkup di pinggir sungai dengan luka bersimbah darah. Usman berteriak minta tolong. Warga yang mendengar teriakan itu kemudian membawa korban ke Puskesmas setempat. Karena luka yang diderita cukup parah, akhirnya korban dilarikan ke UGD (Unit Gawat Darurat) RSUD Jombang.

"Saat kami tolong, terdapat luka bacokan di bagian kepala korban. Selain itu, korban juga dibuang di pinggir kali. Korban sempat bercerita, motornya dirampas dua orang tak dikenal," kata Satip, warga Tapen yang ikut menolong korban.

Hal itu dibenarkan Siti Yuliasih (32), istri korban. Menurutnya, petaka itu berawal ketika suaminya pulang dari tempatnya praktik di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Selama ini Usman memang membuka tempat pengobatan alternatif di desa tersebut. Sekitar pukul 03.00 WIB, Usman hendak pulang ke Desa Jatiwates.

Namun ironis, Usman tidak menyadari kalau dirinya sudah dibuntuti oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor secara berboncengan. Nah, saat melintas di Jalan Raya Tapen, kondisi jalanan tersebut sepi. Saat itulah salah satu dari pelaku membabatkan parang ke arah korban. Crok!! Sabetan senjata tajam itu mendarat di tengkuk korban. Usman roboh bersimbah darah.

Tidak cukup itu saja. Pelaku kemudian merampas motor Vario milik Usman. Sedangkan korban yang sudah tidak berdaya dilempar ke pinggir sungai. "Kami sudah menerima laporan tersebut. Namun kami belum bisa meminta keterangan korban, karena yang bersangkutan masih menjalani perawatan di RSUD Jombang," kata Kasubbag Humas Polres Jombang, AKP Sugeng Widodo. [air/suf]


Warga Sumobito Jombang Tertangkap Edarkan Uang Palsu!

Tiga Pengedar Upal Rp 81,2 Juta Disergap

Senin, 19 November 2012 17:17 WIB

Tiga Pengedar Upal Rp 81,2 Juta Disergap
surya/cornelius
Barang bukti upal Rp 80 Juta yang disita polisi
KEDIRI - Polisi menggagalkan upaya peredaran uang palsu (upal) di Kabupaten Kediri. Tiga orang pengedar upal disergap petugas, saat hendak bertransaksi di tempat parkir sebuah rumah sakit swasta di Kecamatan Pare, Jumat (16/11/2012).
Petugas menyita tumpukan upal senilai Rp 81,2 juta yang akan diedarkan oleh para tersangka.

Ketiga tersangka yang ditangkap yakni Subandi (43) warga Donomulyo Kabupaten Malang, Solikin (61) warga Sumobito Jombang dan Soleh (33) warga Sukun Kota Malang. Gerak – gerik ketiga tersangka terus diamati setelah polisi menerima informasi rencana transaksi upal. 

Sewaktu mereka memasuki tempat parkir rumah sakit dengan menumpang mobil Toyota Avanza bernomor polisi N 1553 YF, petugas langsung menghentikannya.
Ketika digeledah, ternyata ketiga tersangka membawa upal yang siap edar. Tumpukan upal tersebut terdiri dari upal pecahan Rp 100.000 sebanyak 810 lembar dan pecahan Rp 50.000 sebanyak empat lembar. Berdasarkan temuan tersebut, petugas langsung menangkap ketiga tersangka.

“Sebelum menunggu transaksi di rumah sakit, para tersangka sempat mengedarkan upal. Ini berdasarkan dugaan upal yang mereka bawa jumlahnya jauh lebih besar dari yang disita,” terang Kasatreskrim Polres Kediri, AKP Edi Herwiyanto, Senin (19/11/2012) sore.
Dalam pemeriksaan petugas, para tersangka mengaku mendapatkan upal dari seseorang yang mengaku bernama Erwin. Dari Erwin yang mereka kenal tujuh bulan lalu itulah, ketiga tersangka membeli upal Rp 81,2 juta dengan harga Rp 12,5 juta.

Upal tersebut rencananya akan dijual kembali seharga Rp 15 juta. “Saya beli di bus. Harganya Rp 12,5 juta. Rencananya mau saya jual lagi pada Pepi yang sudah pesan dengan harga Rp 15 juta,” ujar Subandi, salah satu tersangka. Sementara itu, ketiga tersangka pengedar upal yang tertangkap ini ditengarai merupakan anggota komplotan pengedar upal yang cukup lama beroperasi. Dugaan ini muncul karena salah satu tersangka, yakni Solikin juga pernah tertangkap dalam kasus upal pada 2007. 

Bahkan saat itu, Solikin diketahui merupakan anggota jaringan yang memiliki tujuh lokasi pembuatan upal di berbagai tempat. Saat ini, polisi terus mengembangkan penyelidikan terhadap kasus tersebut.


Warga Jogoroto Jombang Meninggal di Sumur Mushola

Byurr! Riski Tewas Kecebur Sumur Musola
Kamis, 15 November 2012 13:54:45 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono


Jombang  - Riski Mulyanto (19), warga Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Jombang ditemukan tewas di dasar sumur musola desa setempat. Kuat dugaan, penyakit epilepsi korban kambuh saat duduk di bibir sumur. Kasus tersebut ditangani polsek setempat.

Kapolsek Jogoroto, AKP Purwo Atmojo, Kamis (15/11/2012), mengatakan, peristiwa itu diketahui pasa Rabu sekitar pukul 17.30 WIB. Sebelumnya, korban sedang menjalankan aktifitas rutinnya, yakni menyapu halaman
mushola setempat.

Usai membersihkan halaman, Riski kelelahan. Ia kemudian duduk di bibir sumur. Tanpa diduga, korban tiba-tiba saja mengalami kejang-kejang. Korban pun seketika terjatuh masuk ke dalam sumur.

Bersamaan itu, salah satu tetangga korban yang kebetulan melintas melihatnya. Kontan saja, dia segera berlari untuk menolong korban. Sayangnya, dia tak bisa berbuat banyak, karena korban sudah berada di dalam sumur.

Selanjutnya, kejadian itu ia kabarkannya ke warga lainnya untuk membantu menolong. Warga juga melaporkan kejadian itu ke polsek setempat. Tak lamam, beberapa petugas tiba dan dibantu warga berusaha mengevakuasi korban dari dalam sumur. "Meski berhasil dievakuasi, namun korban sudah dalam kondisi tak bernyawa. Atas permintaan keluarga, usai dilakukan visum luar, korban langsung disemayamkan untuk segera dimakamkan. Kejadian itu murni kecelakaan. Yakni penyakit epilepsinya kambuh," kata Purwo. [suf/ted]


Jelang 1 Suro, 50 Pelajar Jombang Kesurupan!

Jelang 1 Suro, Puluhan Pelajar SMA Kesurupan
 
Rabu, 14 November 2012 14:06:37 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono

Jombang (beritajatim.com) - Puluhan pelajar dari SMA PGRI 1 Jombang mengalami kesurupan massal. Orang 'pintar' yang menangani hal itu mengaitkan kesurupan tersebut dengan datangnya 1 Suro.
Kesrurupan di SMA PGRI 1 Jombang itu terjadi saat berlangsung pelajaran. Tiba-tiba saja, sejumlah pelajar berteriak histeris. Mata mereka mendelik dan kemudian ambruk. Kesurupan itu menjalar ke kelas lainnya.
"Yang mengalami kesurupan jumlahnya sekitar 50 anak. Mereka terdiri dari murid kelas X hingga XII. Kejadian ini sudah terjadi selama dua hari," kata Harko (37), petugas Satpam SMA PGRI 1 Jombang, Rabu (14/11/2012).

Mendapati murid-muridnya kesurupan, sejumlah guru langsung panik. Maklum saja, selain berteriak tak karuan, ada pula pelajar kesurupan yang mengamuk dengan memecahkan kaca sekolah.
Situasi berangsur tenang ketika pihak sekolah mendatangkan orang 'pintar' dari Perguruan Kera Sakti. Puluhan pelajar kesurupan itu kemudian dibawa ke musola sekolah. Pelajar tersebut berangsur sadar seiring dengan pembacaan jampi-jampi.
Namun ada satu pelajar putri yang tidak bisa disadarkan untuk beberapa waktu. Siswi berambut panjang ini minta keluar dari pagar sekolah. Ia minta diantarkan ke sekolah yang ada di depannya, yakni SMK PGRI Jombang.

Siswi tersebut kemudian ambruk. Namun aneh, ketika sejumlah wartawan membidikkan kamera ke arahnya, siswa tersebut langsung bangun. "Matikan kameranya, saya bunuh kamu," teriak siswi tersebut dengan mata melotot.

Apakah penyebab kesurupan itu? menurut Atim, orang 'pintar' yang didatangkan pihak sekolah, kesurupan tersebut dipicu oleh adanya orang yang mencoba ilmu di bulan Suro. Selain itu, pada bulan Suro memang banyak arwah yang gentayangan.
"Alhamdulillah semuanya bisa kita atasi, meski permintaan yang merasuki puluhan siswa itu bermacam-macam. Salah satunya baru sadar kalau diberi minum degan hijau (kelapa muda)," kata Atim yang juga Ketua Perguruan Kera Sakti Jombang. [suf/kun]


DJ Cewek Asal Jombang Bikin Dangdut Makin Yahut!

Sinden Ori Racik Dangdut Lebih Modern dan Nggak Kampungan

Selasa, 13 November 2012 19:32 WIB
Sinden Ori Racik Dangdut Lebih Modern dan Nggak Kampungan
WILLEM JONATA
Sinden Ori 
Laporan, Willem Jonata
JAKARTA
Dari dulu sampai sekarang musik dangdut dianggap kampungan bagi sebagian kalangan pecinta musik Indonesia. Namun, Alind dan DJ Jelly O, duo yang menamakan dirinya Sinden Ori, mengubah stigma itu, dengan terobosan unik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka mengombinasikan musik dangdut dengan instrumen phonograph turntable yang acapkali digunakan oleh pada disk jockey (DJ). 

Dengan kombinasi itu, musik dangdut yang dikemas menjadi berbeda dan tak biasa. Hasilnya di luar dugaan. Aransemen dangdut yang dibawakannya dalam setiap penampilannya mirip dangdut koplo. Tetapi terdengar lebih modern dengan suara decitan yang lembut dan berulang-ulang.

"Kan selama ini, dangdut itu dianggap kampungan, kalau pakai DJ coba-coba saja. Namanya rezeki, orang kelas atas yang mendengar dangdut pake DJ, jadi suka juga," ucap Alind, saat ditemui di Senayan City, Senayan, Jakarta.

Jelly O bertindak sebagai DJ. Selain itu, ia kadangkala ikut mengisi vokal dengan Alind. Alind, wanita asal Jombang itu, kemudian mengeklaim bahwa terosan tersebut, belum pernah dilakukan sebelumnya. "Kan belum ada dangdut yang pakai DJ," ucapnya.

Sinden Ori sendiri, baru terbentuk tahun ini. Kedua personelnya sengaja dipertemukan oleh manajemennya. Mereka telah merilis single perdananya berjudul "Sego Gaplek". Sebuah lagu dengan judul bahasa Jawa dengan rangkaian lirik bahasa Indonesia.

Mereka optimis kehadirannya di blantika musik Indonesia bisa diterima. Apalagi, mereka memberikan terobosan berbeda dengan dangdut pada umumnya. "Yang jelas kita selalu optimis. Kita ingin mendapatkan yang terbaik. Kita bisa padukan DJ dengan dangdut. Kami andalkan gerak dan suara juga," tandasnya.