Jelang 1 Suro, 50 Pelajar Jombang Kesurupan!

Jelang 1 Suro, Puluhan Pelajar SMA Kesurupan
 
Rabu, 14 November 2012 14:06:37 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono

Jombang (beritajatim.com) - Puluhan pelajar dari SMA PGRI 1 Jombang mengalami kesurupan massal. Orang 'pintar' yang menangani hal itu mengaitkan kesurupan tersebut dengan datangnya 1 Suro.
Kesrurupan di SMA PGRI 1 Jombang itu terjadi saat berlangsung pelajaran. Tiba-tiba saja, sejumlah pelajar berteriak histeris. Mata mereka mendelik dan kemudian ambruk. Kesurupan itu menjalar ke kelas lainnya.
"Yang mengalami kesurupan jumlahnya sekitar 50 anak. Mereka terdiri dari murid kelas X hingga XII. Kejadian ini sudah terjadi selama dua hari," kata Harko (37), petugas Satpam SMA PGRI 1 Jombang, Rabu (14/11/2012).

Mendapati murid-muridnya kesurupan, sejumlah guru langsung panik. Maklum saja, selain berteriak tak karuan, ada pula pelajar kesurupan yang mengamuk dengan memecahkan kaca sekolah.
Situasi berangsur tenang ketika pihak sekolah mendatangkan orang 'pintar' dari Perguruan Kera Sakti. Puluhan pelajar kesurupan itu kemudian dibawa ke musola sekolah. Pelajar tersebut berangsur sadar seiring dengan pembacaan jampi-jampi.
Namun ada satu pelajar putri yang tidak bisa disadarkan untuk beberapa waktu. Siswi berambut panjang ini minta keluar dari pagar sekolah. Ia minta diantarkan ke sekolah yang ada di depannya, yakni SMK PGRI Jombang.

Siswi tersebut kemudian ambruk. Namun aneh, ketika sejumlah wartawan membidikkan kamera ke arahnya, siswa tersebut langsung bangun. "Matikan kameranya, saya bunuh kamu," teriak siswi tersebut dengan mata melotot.

Apakah penyebab kesurupan itu? menurut Atim, orang 'pintar' yang didatangkan pihak sekolah, kesurupan tersebut dipicu oleh adanya orang yang mencoba ilmu di bulan Suro. Selain itu, pada bulan Suro memang banyak arwah yang gentayangan.
"Alhamdulillah semuanya bisa kita atasi, meski permintaan yang merasuki puluhan siswa itu bermacam-macam. Salah satunya baru sadar kalau diberi minum degan hijau (kelapa muda)," kata Atim yang juga Ketua Perguruan Kera Sakti Jombang. [suf/kun]


DJ Cewek Asal Jombang Bikin Dangdut Makin Yahut!

Sinden Ori Racik Dangdut Lebih Modern dan Nggak Kampungan

Selasa, 13 November 2012 19:32 WIB
Sinden Ori Racik Dangdut Lebih Modern dan Nggak Kampungan
WILLEM JONATA
Sinden Ori 
Laporan, Willem Jonata
JAKARTA
Dari dulu sampai sekarang musik dangdut dianggap kampungan bagi sebagian kalangan pecinta musik Indonesia. Namun, Alind dan DJ Jelly O, duo yang menamakan dirinya Sinden Ori, mengubah stigma itu, dengan terobosan unik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka mengombinasikan musik dangdut dengan instrumen phonograph turntable yang acapkali digunakan oleh pada disk jockey (DJ). 

Dengan kombinasi itu, musik dangdut yang dikemas menjadi berbeda dan tak biasa. Hasilnya di luar dugaan. Aransemen dangdut yang dibawakannya dalam setiap penampilannya mirip dangdut koplo. Tetapi terdengar lebih modern dengan suara decitan yang lembut dan berulang-ulang.

"Kan selama ini, dangdut itu dianggap kampungan, kalau pakai DJ coba-coba saja. Namanya rezeki, orang kelas atas yang mendengar dangdut pake DJ, jadi suka juga," ucap Alind, saat ditemui di Senayan City, Senayan, Jakarta.

Jelly O bertindak sebagai DJ. Selain itu, ia kadangkala ikut mengisi vokal dengan Alind. Alind, wanita asal Jombang itu, kemudian mengeklaim bahwa terosan tersebut, belum pernah dilakukan sebelumnya. "Kan belum ada dangdut yang pakai DJ," ucapnya.

Sinden Ori sendiri, baru terbentuk tahun ini. Kedua personelnya sengaja dipertemukan oleh manajemennya. Mereka telah merilis single perdananya berjudul "Sego Gaplek". Sebuah lagu dengan judul bahasa Jawa dengan rangkaian lirik bahasa Indonesia.

Mereka optimis kehadirannya di blantika musik Indonesia bisa diterima. Apalagi, mereka memberikan terobosan berbeda dengan dangdut pada umumnya. "Yang jelas kita selalu optimis. Kita ingin mendapatkan yang terbaik. Kita bisa padukan DJ dengan dangdut. Kami andalkan gerak dan suara juga," tandasnya.


Kapolda, Kapolres Nganjuk & Kapolres Jombang Datangi Markas Gamis

Kapolda Datangi Markas Gamis
 
Selasa, 13 November 2012 13:41:20 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono

Nganjuk - Kapolda Jatim, Irjen Pol Hadiatmoko meninjau markas Gamis (Gabungan Masyarakat Islam) yang ada di Jalan Puntodewo di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Nganjuk, Selasa (13/11/2012). Seiring dengan itu, tim Gegana Polda Jatim juga melakukan penyisiran di lokasi tersebut.

Begitu datang, Kapolda langsung memasuki rumah yang sudah dipasangi police line tersebut. Selain Kapolda, nampak pula Kapolres Nganjuk AKBP Anggoro Sukartono dan Kapolres Jombang AKBP Tri Bisono Semiharso. Di rumah yang digunakan Ponpes Darul Akhiya' itu, Kapolda sempat memeriksa sejumlah ruangan.

Sayangnya, sejumlah kuli tinta harus rela mengambil gambar dari luar police line. Wartawan tidak diperkenankan mengambil gambar kondisi dalam ruangan, karena telah di-police line oleh petugas. [air/suf]


48 Santri Diduga Calon Teroris Diciduk, Ada yang dari Jombang!

48 Santri Diduga Dididik Jadi Teroris Dibawa ke Polres Nganjuk

Selasa, 13 November 2012 09:50 wib
NGANJUK - Sebanyak 48 santri Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang dicurigai dididik menjadi teroris, dievakuasi ke Mapolres Nganjuk, Selasa (13/11/2012), sekira pukul 03.00 WIB dini hari tadi.

Mereka sempat diamankan di Mapolsek Kertosono usai penggerebekan yang dilakukan warga pada Senin, 12 November malam.

Para remaja usia belasan tahun itu dievakuasi menggunakan bus dengan pengawalan ketat polisi. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur dan provinsi lain, seperti Jombang, Tulungagung, Blitar, dan Ambon.

Polisi juga mengamankan pimpinan ponpes, Nasirudin Ahmad, warga Sukoharjo, Jawa Tengah. Selain itu, dari rumah kontrakan para santri, polisi mendapati sebuah senjata laras panjang, senjata tajam, serta buku-buku dan VCD.

Kapolres Nganjuk, AKBP Anggoro Sukartono mengatakan, pihaknya masih mendalami dugaan para santri itu akan dididik sebagai teroris.

Polres nganjuk juga telah meminta bantuan Polda Jatim dan Densus 88 Antiteror untuk menyelidiki dan menangani kasus ini, namun hingga pagi ini tim dari Polda dan Densus 88 belum tiba.
(Sindo TV / Mukhtar Bagus / ton)
 
 

Sumur Kerajaan Majapahit ditemukan di Jombang!

Senin, 12/11/2012 16:19 WIB

Warga Jombang Temukan Sumur Tua Saat Gali Septic Tank

Tamam Mubarrok

Foto: Tamam Mubarrok

Jombang - Sebuah sumur tua diduga peninggalan kerajaan Majapahit, ditemukan di Desa Plandi Kecamatan/Kabupaten Jombang, Senin (12/11/2012). Sumur itu ditemukan warga saat menggali septic tank.

Sumur tua itu pertamakali ditemukan oleh Saiful (43). Saat dirinya menggali bak penanampungan kotoran di halaman belakang rumahnya. Saat penggalian mencapai kedalaman 50 cm, dia menemukan lubang.

Saat rasa penasarannya mulai muncul, Saiful kembali mencangkul sumur itu. Alhasil, dia menemukan sebuah lubang berdiameter sekitar 70 cm. Saat digali kembali, ternyata lubang itu sebuah sumur.

Untuk memastikan sumur itu dalam atau dangkal, Saiful memberanikan dirinya terjun ke dalamnya. Saiful memperkirakan, kedalaman sumur itu adalah 3 meter. Kondisi air sumur juga layaknya air sumber pada umumnya.

"Awalnya dinding septic tank sudah saya bangun. Tapi di dalamnya ada sumur yang terbangun dari bata kuno. Pengerjaan sementara saya hentikan," katanya.

Sementara Kepala Pokja Penyelamatan dan Perlindungan BP3 Trowulan, Danang Wahyu Utomo saat dikonfirmasi detiksurabaya.com mengaku belum mendatangi lokasi sumur itu. Pihaknya akan secepatnya meneliti penemuan warga itu.

"Kita belum pastikan itu peninggalan kerajaan mana. Yang pasti, wilayah Jombang itu masuk Majapahit. Secepatnya kita teliti," katanya di ujung telepon.

(fat/fat)
 
 

Ricuh, Turnamen Sepakbola Abal-abal di Jombang!

Ketupel Turnamen Sepakbola Abal-abal Jombang di Pukuli Peserta yang Emosi

Tribunnews.com - Senin, 12 November 2012 17:10 WIB

JOMBANG - S(43), salah satu petugas Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Jombang, babak belur dihakimi massa, Minggu (11/11/2012) malam.
  
Pemicunya, S selaku penyelenggara turnamen sepakbola tingkat provinsi, dianggap menggelar turnamen awu-awu alias palsu alias abal-abal. Indikasinya, ketika turnamen hampir usai, pihak penyelenggara justru menghilang.
  
Selain itu, tak ada satu pun pengadil yang memimpin kala turnamen memasuki babak final. Bahkan, tak ada hadiah dalam turnamen tersebut.
  
Peserta dari beberapa daerah langsung ‘menangkap’ S. Entah siapa yang memulai, S sempat dihajar beberapa anggota tim peserta turnamen. Beruntung polisi segera mengamankan S ke mapolsek.
   
Berawal ketika S bersama sejumlah rekannya menggelar Turnamen Sepak Bola U-12 tahun tingkat provinsi, Pahlawan Cup, di lapangan SMK Negeri 1.
  
"Ada 24 tim dari beberapa daerah yang ikut, setiap peserta ditarik biaya Rp 400.000," ungkap wakil peserta. Dalam turnamen ini dijanjikan hadiah berupa trofi dan uang pembinaan.
  
Untuk juara satu Rp 2,5 juta, juara dua Rp 1,5 juta dan juara tiga Rp 1 juta. Semula, tak ada yang aneh dalam turnamen tersebut. Hingga akhirnya, turnamen memasuki final.
  
Namun, ketika final hendak mulai, Minggu (11/11/2012) sore, timbul kecurigaan peserta. Sebab di lokasi pertandingan, tak ada satu pun perangkat pertandingan.
  
Mulai dari wasit, asisten wasit sampai panitia pelaksana juga terlihat. Hingga pukul 18.30 WIB, setelah dicek ke beberapa instansi terkait, ternyata turnamen tersebut fiktif.
  
Sejumlah pemain maupun ofisial tim langsung mengamankan S, selaku ketua penyelenggara. Beberapa orang sempat emosional dan melayangkan pukulan ke arah S.
     
"Jelas kami ditipu, pertandingan final semua panitia menghilang, tak ada wasit. Apalagi, tidak ada hadiahnya," kesal Rofik, pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Tulungagung.
  
Beberapa petugas polisi yang datang segera mengevakuasi S ke Mapolsek Jombang Kota. Melihat itu, ratusan pendukung, pemain maupun ofisial tim dari sejumlah daerah pun mendatangi mapolsek.
     
Kini kasus turnamen sepakbola fiktif tersebut masih diusut polisi.


Dalam 1 Tahun Difteri buat 11 Warga Jombang Meninggal

Berantas Difteri, 4,5 Juta Warga Jatim Diimunisasi

Nurul Arifin
Senin, 12 November 2012 16:18 wib wib
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
SURABAYA - Sejak dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB), Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengelar imunisasi serentak di 19 kabupaten/kota. Total masyarakat yang bakal disuntik vaksin ini sebanyak 4,5 Juta orang.

Kepala Dinkes Jawa Timur dr Budi Rahaju menyebut, 19 kabupaten/kota tersebut di tersebar di Pulau Madura, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang dan Madiun. Kemudian sejumlah kawasan di Tapal Kuda seperti, Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Pasuruan. Upaya ini dilakukan serentak karena memang karakteristik Difteri di Jatim lebih beracun atau toxigonic.

"Dulu memang pernah diberlakukan KLB tapi ternyata jumlahnya malah meningkat di tahun 2012. setelah diteliti ternyata penanganannya sporadis. Oleh karena itu, akan kami lakukan secara serentak," katanya di Surabaya, Senin (12/11/2012), seraya menyebut imunisasi serentak itu akan dilakukan pada tanggal 12-24 November 2012 mendatang.

Ia menjelaskan, untuk usia 3 tahun hingga 7 tahun mendapat Vaksin DT. Kemudian di atas 7 tahun disuntik vaksin Td, sementara untuk akan usia di bawah 3 tahun diberikan vaksin DPT-HB. Menurut Budi, imunisasi ini juga untuk anak-anak yang memiliki imunisasi tidak lengkap. Tim yang dilibatkan adalah Posyandu, Puskesmas, Ponpes dan Sekolah.

Selain menggelar imuniasai serentak, Dinkes Jatim juga menggerakkan tim surveilance untuk mendeteksi penyakit yang disebabkan oleh Corynebacterium Diphtheriae. Kata Budi, penyakit difteri ini menjangkit akibat pergerakkan penduduk dan faktor geografi.

"Banyak kasus di negara lain menunjukkan imunisasi yang berlangsung statis membuat penyakit ini muncul kembali. Imunisasi di Jatim tidak bisa maksimal 100 persen karena banyaknya penduduk musiman di suatu daerah dan yang tinggal di lokasi terpencil, sehingga mengakibatkan tidak menerima rangkaian imunisasi secara lengkap," jelasnya.

Sementara itu berdasarkan data dari Dinkes Jatim hingga 20 Oktober 2012 jumlah kasus Difteri di Jatim mencapai 710 penderita. Dari jumlah tersebut, 20 orang di antaranya meninggal dunia. Penyakit Difteri sudah menyerang 38 kabupaten/kota di Jawa Timur sejak tahun 2011.

Tahun 2011 jumlah kasus Difteri sebanyak 664 penderita dan 20 orang meninggal dunia. Insiden tertinggi di Kota Malang sedangkan pada tahun 2012 kasus terbanyak di Kabupaten Situbondo dengan 113 kasus dan meninggal 7 orang. Di susul Kabupaten Jombang dengan 87 kasus dengan 11 orang meninggal dunia.